BANDUNG KITA

Menu
  • Home
  • Geografis BDG
  • Budaya
    • Sunda
    • Sejarah BDG
    • Sejarah Jabar
    • segera
    • segera
  • Pendidikan
    • Artikel Pendidikan
    • Potret Pendidikan
  • Sosial Ekonomi
    • Artikel SosEk
    • Potret SosEk
    • Lingkungan
    • Artikel Umum
  • Produk
  • Buku
  • Surprise Me
Pendidikan Bimbel, Dampak Pembelajaran yang Buruk?

Bimbel, Dampak Pembelajaran yang Buruk?


Semakin menjamurnya aktivitas bimbingan belajar (bimbel), mulai dari SD hingga sekolah menengah, ditanggapi secara berbeda oleh beberapa kalangan. Berdas  arkan hasil wawancara kepada teman-teman seangkatan serta adik-adik angkatan yang pernah mengenyam bangku bimbel dan yang notabene pernah menjadi “korban ketegangan” Ujian Nasional (UN), mereka menyatakan alasannya mengikuti bimbel, yaitu bimbel diperlukan supaya mereka bisa belajar jauh lebih dalam lagi terkait materi pembelajaran, terutama mata pelajaran-mata pelajaran yang di-UN-kan dalam rangka kelulusan sekolah maupun yang di-SBMPTN-kan dalam rangka seleksi penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri.
Berdasarkan jawaban tersebut, penulis berusaha bertanya lebih mendalam lagi kepada mereka: apakah guru kurang mampu menjelaskan materi pembelajaran secara lebih mendalam kepada mereka? Jawaban mereka secara umum, yaitu sebenarnya guru-guru mereka telah mengajarkan materi pembelajaran secara lengkap, tetapi kurang mendalam dalam mempelajarinya. Hal itu merupakan dampak dari keterbatasan waktu (ditambah pula dengan adanya dukungan finansial orang tua serta ajakan dari rekan sesama), sehingga pada akhirnya mereka akhirnya mengikuti bimbel.
Terkait keterbatasan waktu dalam pembelajaran, muncul pertanyaan: mengapa keterbatasan waktu bisa muncul dalam pembelajaran? Jawabannya adalah karena di sekolah formal memang ada batas waktu pembelajaran untuk setiap mata pelajaran.
Kemudian, apakah gara-gara waktu yang terbatas, pembelajaran menjadi sulit atau tidak bisa untuk dioptimalkan oleh guru kepada peserta didiknya? Hal itu sangat tergantung dari ketercapaian kurikulum yang harus diajarkan kepada peserta didik. Apabila peserta didik telah belajar sesuai dengan tuntutan kurikulum yang ada serta waktu yang tersedia, maka pembelajaran yang telah dilaksanakan oleh guru beserta peserta didiknya di kelas sudah dapat dikatakan optimal, meskipun (mungkin) peserta didik kurang belajar secara mendalam, alias peserta didik hanya mempelajari materi-materi pembelajaran secara mendasar.
Yang menjadi persoalan adalah seringkali dalam latihan soal-soal yang dibuat untuk keperluan berbagai macam tes, seperti UN, SBMPTN, dll, jumlah soalnya tidak sebanding dengan lamanya waktu yang tersedia untuk belajar dan/atau tingkat kesukaran soalnya melebihi batas tuntutan kurikulum, sehingga pembelajaran di sekolah seringkali dinilai seolah-olah kurang mengoptimalkan waktu yang tersedia untuk keperluan pembelajaran bagi peserta didik.
Buktinya adalah dalam berita yang disampaikan oleh Pikiran Rakyat (29 Agustus 2015), ada yang berpendapat bahwa menjamurnya aktivitas bimbel disebabkan karena “guru tidak memberikan pengajaran secara serius dan optimal, terkesan menyembunyikan ilmu yang seharusnya diberikan dan diterima oleh siswa.” Apakah benar (secara umum) para guru mengajar tidak dengan serius, kurang mengoptimalkan waktu yang terbatas untuk pengoptimalan pembelajaran di kelas, serta bertindak pelit ilmu sepelit itu?
Membuat peserta didik mengerti/memahami materi pembelajaran yang dipelajari olehnya adalah dambaan dari setiap guru. Guru manapun pasti akan merasa senang apabila ketika peserta didiknya ditanya, “Apakah kalian paham (terkait materi pembelajaran)?”, peserta didiknya menjawab, “Ya, saya paham, Pak/Bu.” Oleh karena itu, tidaklah tepat apabila guru dituding sebagai “tersangka” penyebab menjamurnya aktivitas bimbel di luar sekolah.***
Unknown
Add Comment
Pendidikan
Sunday, December 6, 2015
  • Tweet
  • Share
  • Share
  • Share
  • Share

About Admin Lycoris

This is dummy text. It is not meant to be read. Accordingly, it is difficult to figure out when to end it. But then, this is dummy text. It is not meant to be read. Period.

Related Posts

Label

  • Buku
  • Contact Us
  • Home
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Sejarah Jabar
  • SejarahBDG
  • Umum

Weekly Posts

Powered By Blogger

Bermanfaatkah blog ini?

Kunjungan

Copyright © 2014 BANDUNG KITA All Right Reserved
Created by IWAIG