BANDUNG KITA

Menu
  • Home
  • Geografis BDG
  • Budaya
    • Sunda
    • Sejarah BDG
    • Sejarah Jabar
    • segera
    • segera
  • Pendidikan
    • Artikel Pendidikan
    • Potret Pendidikan
  • Sosial Ekonomi
    • Artikel SosEk
    • Potret SosEk
    • Lingkungan
    • Artikel Umum
  • Produk
  • Buku
  • Surprise Me
Pendidikan Nilai Besar atau Berkarakter?

Nilai Besar atau Berkarakter?


Mengingat saat duduk di bangku sekolah (SD, SMP dan SMA), ujian merupakan hal wajib yang harus diikuti bagi siswa-siswi untuk mendapatkan nilai. Tentunya dengan harapan nilai yang mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal), bagi sebagian siswa mencontek merupakan jalan tercepat dan termudah untuk mendapatkan nilai yang baik (mencapai KKM). Lalu, siapa yang tidak suka dengan cara seperti itu?
Tidak adanya aturan yang baku dan jelas di sekolah menyebabkan mencontek menjadi hal yang lumrah bagi kalangan siswa-siswi zaman sekarang, walupun telah disadari mencontek merupakan hal yang dilarang. Beberapa siswa mengungkapkan mengenai apa alasannya mencontek: “walaupun di rumah sudah belajar, tapi nilainya belum tentu bagus, kalo nyontek-kan lumayan, nilainya pasti bagus” dan ada juga yang mengungkapkan: “biar nilainya bagus dan tidak dimarahi orang tua”. Dengan handphone pintar yang mereka miliki, mencontek jadi semakin mudah dan cepat di akses.
Dalam buku ‘Evaluasi Pembelajaran’ (Zainal Arifin : 2013) dikatakan, pada dasarnya ujian di gunakan untuk mengevaluasi hasil dari pembelajaran yang telah dilaksanakan, baik untuk guru dalam mengevaluasi pembelajaran atau cara mengajarnya dan juga untuk mengukur kemampuan kognitif mereka (siswa-siswi). Namun lain cerita jika hasil tes yang digunakan untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran merupakan hasil dari mencontek, tidak akan ada evaluasi atau perbaikan kedepannya.
Disini telah terjadi pergeseran fungsi atau makna “ujian” yang dilaksanakan di sekolah-sekolah. Ada anggapan dalam masyarakat jika orang pintar dialah yang mendapatkan nilai besar. Padahal pembelajaran disekolah merupakan proses yang tidak hanya untuk mendapatkan nilai yang besar, namun proses bagaimana siswa menjadi cerdas dan memiliki karakter.
Dari anggapan tersebut menciptakan hubungan yang terikat antara sekolah dan masyarakat. Sekolah akan di cap ‘buruk’ apabila nilai dari peserta didiknya jelek atau di bawah KKM, sehingga tidak disadari mencontek akan menjadi hal yang ‘dilarang, tapi diperbolehkan’.

Perlunya Figur
Layaknya seorang wasit dalam pertandingan sepak bola, jika melanggar ada kartu kuning (peringatan), kartu merah (keluar dari permainan), free kick, penalty, corner kick, bahkan denda uang bagi pemain dan tim. Begitu juga dalam dunia pendidikan, perlu adanya figur yang berperan seperti wasit dalam pertandingan sepak bola, yaitu menjadi penjaga aturan di sekolah (dalam hal ini ialah guru). Namun yang sering terjadi ialah wasit di sekolah tidak berfungsi dengan baik, yang kemudian menyebabkan tidak adanya pendidikan karakter yang ditanamkan kepada peserta didik, salah satunya dalam hal mencontek tadi.

Perlu kita ketahui bersama, pendidikan karakter bukan semata-mata memberikan pengetahuan, tetapi menetapkan aturan dan konsekuensi di lingkungan sekolah. Ada aturan yang jelas dan konsisten, misalnya: jika mencontek akan mendapatkan peringatan hingga hukuman ujian susulan. Karena pada esensinya, pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia yang memiliki karakter tangguh, disiplin dan jujur.***
Unknown
Add Comment
Pendidikan
Sunday, December 6, 2015
  • Tweet
  • Share
  • Share
  • Share
  • Share

About Admin Lycoris

This is dummy text. It is not meant to be read. Accordingly, it is difficult to figure out when to end it. But then, this is dummy text. It is not meant to be read. Period.

Related Posts

Label

  • Buku
  • Contact Us
  • Home
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Sejarah Jabar
  • SejarahBDG
  • Umum

Weekly Posts

Powered By Blogger

Bermanfaatkah blog ini?

Kunjungan

Copyright © 2014 BANDUNG KITA All Right Reserved
Created by IWAIG